Sabtu, 06 Oktober 2012

Doktrin zionisme (Protocol XXII) menyatakan kita adalah bangsa yang dipilih Tuhan untuk memimpin. Dengan keberadaan emas sebagai kekuatan terbesar dunia ada di tangan kita, kita akan membuktikan bahwa: (1) Kita melakukan kejahatan selama berabad-abad pada akhirnya untuk membawa kebaikan dan kesejahteraan hidup, dimana segala sesuatunya akan menjadi teratur walaupun dihasilkan dengan cara-cara yang
 kejam dan dengan kekerasan; (2) Kita, bangsa dermawan, akan memperbaiki dunia yang tercabik-cabik dan menciptakan kemanusiaan yang baik dan merdeka dalam suasana damai dan tenang; (3) Kita menetapkan hukum untuk mengawasi dan mengarahkan secara ketat kehidupan kemanusiaan yang saling hormat menghormati; (4) Kemerdekaan tidaklah berarti sebuah ketidakteraturan dan kebebasan yang penuh; (5) Harkat dan martabat seorang manusia dan kekuatannya tidak terletak pada kebebasannya untuk menyebarluaskan prinsip-prinsip yang menyesatkan atas dasar kebebasan hati nurani dan kesederajatan; (6) Kebebasan tidak berarti seseorang berhak meluapkan kemarahannya melalui pidato-pidato di depan publik yang kondisi kehidupan masyarakatnya sedang berantakan; (7) Kebebasan sejati terletak pada kesadaran seseorang untuk mentaati dan memperhatikan hukum-hukum yang berlaku di dalam kehidupan; dan (8) Kemuliaan seseorang ditentukan oleh kesadarannya akan adanya dan ketidakadaannya hak dan tindakannya tidak didasarkan pada angan-angan yang berasal dari egonya. Akhirnya, otoritas kita akan terbangun megah karena kekuatannya yang super dan tidak mengekor kepada para pemimpin kaum non Yahudi yang pandai berpidato (berkampanye) mengeluarkan kata-kata yang tidak berarti dan penuh dengan kebohongan. Begitu juga, otoritas kita akan menjadi puncak keberaturan dan sumber kebahagiaan manusia. Aura otoritas kita bersifat mistis yang menimbulkan kepatuhan dan rasa takut bagi masyarakat. Disinilah otoritas kita memiliki kekuatan sejati yang tidak akan berbagi dengan prinsip-prinsip yang lain bahkan dengan Tuhan sekalipun. Sehingga, tidak seorangpun berani mendekat apalagi mengambil kekuatan kita.

Adakah tambang-tambang emas yang dieksploitasi di dalam wilayah NKRI yang benar-benar milik Rakyat dan Bangsa Indonesia atau Pemerintah Negara Republik Indonesia untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan Rakyat Indonesia...??? Berapa persenkah perbandingan pola kepemilikan dan penguasaan domestik dan asing atas tambang-tambang emas yang dieksploitasi...??? Adakah pemimpin-pemimpin Bangsa Indonesia bila berpidato mengeluarkan kata-kata yang tidak berarti dan penuh kebohongan...???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar